di Hari Chairil mati

Posted: 29 April 2011 in Tulisan Ngasal

sampailah pada pagi ini. aku rasa keadaannya sama, persis sama. mata lelah begadang semalaman hanya karena sebuah hal yang namanya keasyikan. atau mungkin pelarian? entahlah. kurasa semua berjalan biasa saja dengan ketakutan akan suatu hal. akan sebuah tanya “nanti jadi apa”.

kapan hari sebuah kata “hidup hanyalah menunda kekalahan”, ya ada benarnya juga. tidak ada yang namanya kemenangan akan hidup kalo toh nanti semua jadi senja, lalu beranjak mati. kalo aku boleh bertanya, pada saat seperti apa orang-orang itu, kamu, kalian merayakan akan suatu hal yang disebut kemenangan?

begitu banyak hal, begitu banyak beban. aku pikir, di sekali hidup ini kenapa tak dinikmati, kenapa harus selalu diratapi? kenapa harus “jadi orang” untuk diakui kalau aku hidup? ah,, aku sekarang orangnya bisa tahan, kata Chairil. kalaulah memang hidup hanya menunda kekalahan, seperti yang dibilangnya juga, mungkin ada satu hal berarti yang harus dilakukan sebelum pada akhirnya mati.

tapi aku tidak akan pernah mau “jadi orang”

Komentar
  1. supernopha mengatakan:

    Ya, ada satu lagi penyair yang mati muda Zir. RIP Mahesa Aditya.😦

  2. dedic.ahmad mengatakan:

    apa bnr slh stu pnyebab kematian chairil adalah sipilis?😀

  3. jensen99 mengatakan:

    Menunggu senja itu lama, zie. Chairil saja yang mencapainya terlalu cepat. Jadi memang gak bisa pencapaiannya hanya makan tidur saja. Harus ngopi2 dan maen gim juga… *eh*

  4. Insanitis37 mengatakan:

    Prosa yg sangat menarik dan replektif…
    Selamat berakhir pekan, Sahabat…

  5. Alex© mengatakan:

    Tapi kalau kau tak mau jadi “orang” bisa repot keluargamu nanti bertanya, “Si Haziran sudah jadi orang apa belum?” Tak etis mereka bilang, “Ah… belum.. dia masih kayak mereka yang menyebut dirinya seniman, masih jadi monyet bohemian yang suka kian-kemari berjalan.”
    😆

    Kau nanti orangnya mesti bisa tahan. Kau sudah berapa waktu bukan kanak lagi, biar pun dulu dan nanti ada subahan, yang belum jadi dasar perhitungan kini. Biar nanti tak sawan lagi kau diburu. Jika pena sudah disimpan, dan kata-katamu kini jadi abu. Orang-orang sering lupa bahwa tiap diri memburu arti, atau menyerahkan pada anak lahir tiba. Jangan mengerdip dulu, terus saja pikiranmu diasah. Karena ini blog bisa jadi kertas gersang, bikin tenggorokan nanti kering sedikit mau basah. Haha.

    • haziran mengatakan:

      itulah, kadang masih senang awak berlarian, macam kanak kejar putus layangan. tapi tentang seniman, tentu bukan perhitungan lagi kini =))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s