Archive for the ‘#30HariPuisi’ Category

Ya sudah, Tak Apa.

Posted: 21 Desember 2010 in #30HariPuisi, 1. Sastra, 3. Sajak

rembulan di garis waktu. sebentar redup, sebentar terang.
haruskah ku nyala lilin, bakar dupa?
harap bidari turun sekali lagi

rembulan di garis waktu, malumalu pamer muka ditepian renjana.
kau tak mau, aku tak apa.
ada banyak di simpang tiga.

siapa lebih indah?
siapa bikin gairah?
Bidari atau Nina sama : nikmati saja.

rembulan di garis waktu,
merengut tapi tampak anggun sebisanya.
mau apa?

Malang: Desember 2010
07.49

30 Hari Puisi – #18 Pupus

Iklan

Sepoi Kau Menanti

Posted: 20 Desember 2010 in #30HariPuisi, 1. Sastra, 2. Puisi

kurasakan genggam jemarimu rapuh
semacam biduk terambing badai dilautan
menunggu karam entah suatu kapan

ada yang datang saat hilang, satu kembali jika ada yang pergi
hidupmu, hidupku, adalah angin
suatu masa sepoi, suatu lalu lembut, lain masa tenang, kadang menampar, menerjang.

ratapan mana mampu mereduksi panas matahari?
di malam pekat-pun kurasa kau pernah berkeringat

lalu apa susahnya tertawa? -HAHAHAHAHAHA-
begitu saja.
bagian mana kau tak bisa?

atau kau mau terus tersimpuh nunggu angin?
melepas gerah-gerahmu. dan terbang entah kemana.
silahkan saja.

Malang: Desember 2010
07.40

30 hari Puisi – #17 Angin

dan malam, jikalau dulu mampu jarak ku mampat
kan ku peluk dia yang sekarat.
Lalu kudesahkan di telinganya, tentang hangat matari esok pagi
tentang aku dan dia yang akan berlarian lagi.
suatu nanti.

entah berapa anyelir bersampul pesan buatnya. lalu kemuning?
ah, cinta selalu jawab dengan bulir airmata. dalam hening

semacam pelangi hiasi gerimis senja, kau hanya simphoni dari fatamorgana

andai kau tahu, di tiap hari kematianmu,
kuletakkan sebait puisi rindu dan setangkai mawarbiru dinisanmu.
semacam itulah cintaku

sampai jumpa sayang, di lain pagi.
saat kuncup-kuncup dahlia bermekaran lagi, di ujung batas reinkarnasi

adakah pelukmu menyambutku?

Malang, 19 Desember 2010
07.01

30 Hari Puisi – #16 Kematian

selarut ini, kususuri trotoar dalam gelap malam sepi
sebakar kretek, telusup kabut pendar lampu jalanan. aku sendiri

ah, ada kucing kecil mengigil di pinggir jalan,
sebelahnya segeletak tubuh terbujur tidur.
baunya pesing. berselimut koran, kedinginan.
heran!
kupandangi dua makhluk sambil isap kretek dalamdalam

rupanya dia bangun, lalu tersenyum.
giginya putih, bersih.
malumalu kutawarkan kretek lalu bergegas pergi
saat itu disambarnya tanganku
“kemana kawan?” tanyanya
“hujan datang bentar lagi, mana kalengmu? air ini berkah Tuhan. mari bersulang atas nama kelaparan”

GILA!

tersenyum lagi, aku pergi saja.
dia mulai berontak, berteriak!

“kemana kau pergi?”
“sampahsampah, kolong jembatan, koran, trotoar adalah tempat untuk kita, sayang”
“berkenankah dirimu, aku, kita, kusebut korban ketamakan?”
“mungkin tiada kuberi fressia, untai mutiara dari palungpalung Banda”
“hanya selimut ini, sayang, diriku! selimut abadimu, hanya itu!”
“tatap ini sudahkah memastikan diriku : untukmu?”
“jangan pergi sayang, jangan!”
“selama hujan tidak berhenti, selama angin terus bawa badai, kita tidak akan mati kelaparan”
“lalu kita melanglang, sayang! ke sabana! ke stepa! siapa bisa menahan deru langkah kita?”
“hujan akan terus memberi makan kita. sayang.. hujanlah harapan!”

GILA!

suaranya hilang ditelan tikungan. hujan semakin deras, mengeras.
tengah malam kali ini basah, renai semilir telasah, dan hanya gelap jika kau mau tengadah.
telusup kabut bikin mati lampulampu. sepi. sendiri.
kalau hujan memang harapan, kemana purnama malam ini?

Raya Mulyoagung : 18 Desember 2010
sebuah malam.

30 Hari Puisi – #15 Harapan

untuk Ciel

saatsaat seperti ini, kala renai mengabur mataku. selalu ada satu hal yang hampir tak pernah kukatakan padamu : rindu

 

Malang 2010

 

30 hari Puisi – #14 Kejujuran