Arsip untuk Oktober, 2009

senada hiruk mengusik liang kupingku
saat kususuri trotoar lusuh, sepagi ini.
tak ada serapah kurasa, dimana mereka serentak pergi..
sedang aku berjalan pulang ke ranjang..

dan itu, semendung kabut menghantar
aroma getir perjalanan yang membuat beberapa nyawa memilih berakhir di seutas tali
di pohon Serut, bahkan Trembesi..
malah ada yang berharap suntik mati dengan modal belati di pasar

sepi! sepi..

sisa aroma kemenyan semalam..
masih terendus di perut-perut buncit itu juragan disana..
tertawa lebar pada jalanan..
Pergilah ke Gunung Kawi seperti kami!

senada hiruk kian mengusik liang kupingku
asap dan deru bercengkerama manja, sepagi ini
membentuk siluet upa segenggam nasi
sedang aku melantun sajak dari lagu itu semalam

dan tentang seberandal bocah dengan mulut berbau kretek.
menggenggam ecek-ecek pun mereka riang..
itu lampu merahlah padam..
Bang.. lima ratus perak lah buat kami makan..

sepi! sepi..

adakah kuas melukis mantra?
di pohon-pohon bercat putih itu
kalau kau gambar monalisa, ku beli juga itu muka..
sayang kau hanya menanti seribu di kotak kayu dudukmu.

senada hiruk bosan mengusik liang kupingku
membuatku budek-budrek, sepagi ini..
dan kembaliku ke tepi, sendiri mendengkur berharap mimpi.
mungkin saja aku berakhir seperti mereka, suatu kapan..

malang, 8 Oct 09.
10.25.

Iklan

gairah coklat

Posted: 11 Oktober 2009 in 1. Sastra, 3. Sajak, 4. Essay

saat itu mendung,
lalu sekepak sayap kupu-kupu coklat menyentakku tepat di kepala. jendela ini terlalu lebar untuknya, atau angin mengantarkan?!

dia menari
meliuk tiga kali
dan hinggap di antara dua sawang kering
didekat lampu dia mengerling

nakal..
aku mulai menyukainya. agak binal saat meliuk, tahu kah kau erang desah polos dan sebenar membuatmu ejakulasi dini? bukan coklatnya. bahkan Poisoned Kissnya Liliana Sanchez lebih berwarna. padahal itu sudut tergelap di ruangan ini.

mengerling-pun lugu
serupa liana tumbuh terburu

membisuku, sedang kupu-kupu itu mulai berkuasa diruangku. padahal aku secara de fakto adalah pemilik tunggal jengkal 8 meter persegi ini.
dia terbang, mengerjap sekali lagi, setelah melewati lemari dia mencoba pergi. reflek aku berdiri, menekan roling kelambu dan mengunci jendela pintu. dia hanya tertawa, berbalik lalu hinggap lagi di potret menjijikkan berjudul Missing You..
menggodaku, paling tidak membiarkan dirinya dan pasrah aku goda.
mendekatku, berbisik nakal mendesahkan kidung Asmarandhana. dia mengejap lagi, merangkulkan sayap, menempelkan sungut.
dengan nada lemah bergairah dia berbisik “bagaimana caranya?”

lalu kami pun bercinta..

Pacitan, kamar bisu 270909.
01.34 WIB

‘resah persimpangan’

Posted: 11 Oktober 2009 in 1. Sastra, 2. Puisi, 4. Essay

sulit rasa memenjara hati menjadi diri
ketika binal desah fajar merasuki
satu, dua, denyit nafas yang beradu diantara denting suara kertas
beringas!

Seperti ku dengar lagi cerita lama
dimana Ra dan Kronos mulai membuka tabir gerbang titannya.
Hingga Andalusia pun runtuh menunggu.
Dan Odin memilih bisu mengukir salju

dan kau?
Memintaku berhembus membawa fresia
tak sedikitpun aku tau.
Karena aku hanya punya forsythia

aster itu telah terangkai lengkap sebagai ambrosia

dan tentang Shasta yang berkuda ke utara
terus melirik ke timur dimana stepa berbatas bunga matahari
mencoba mengerti bias dibalik cahaya
tak ada pagar, atau dinding, kalau kau mau datanglah kemari

tergoda? Tentu saja..
Adakah yang berpaling dari liuk Shaskia?
Botol botol rum pun berserakan
tak terpedulikan

aku hanyalah hembusan stepa basah
berirama pasrah yang jatuh tak berpenggalah
mungkin kau bilang, sudah tercipta untuknya ranting, daun dan bungamu
tapi kurasa, bisa kutumbuhkan lagi sendiri untukku.

Pun ambrosia untuknya dariku.

Dan memang, ladangmu telah cerah dengan mentarimu
dan stepaku telah basah akan hujanku
namun, akan terus terhembus angin pasrah yang bergairah
di setiap fajar yang selalu resah

catatan kloset, Pacitan 260909.
Sepenggalah pagi.

pasrah

Posted: 1 Oktober 2009 in 1. Sastra, 2. Puisi

duduklah kau disitu
serendra nada serapah pun terpantul
sunyi, sendiri itu nikmati.
sepetak dunia ciptaanmu ini tak jua kau akui

pacak! pacak!
kemana beranjak picak?
Berteriakpun kosong.
Tak ada dinding pengembali gaung.
sebut Tuhanmu jika kau tak malu

tetap duduklah disitu
ngeri dan sunyi itu nikmati.

Ba’da Magrib, 030809
18b, 65151

kemuning

Posted: 1 Oktober 2009 in 1. Sastra, 3. Sajak, 4. Essay

tampar aku,
jika ku mulai membicarakannya.
bangunkan aku,
jika ku mulai mengigaukannya.
bakar aku,
jika ku mulai menggigil merindukannya.
sumpal aku,
jika ku mulai berdendang untuknya.
potong jemariku,
jika ku mulai menulis sajak tentangnya.
pasung aku,
jika ku berencana mendatanginya.
pendam aku,
jika ku mulai memasang sayap menggapainya.
benamkan aku,
jika ku mulai berenang menujunya.
bongkar otakku,
jika ku mulai memikirkannya.
cacah hatiku,
jika ku mulai menyembunyikan namanya.
biar renjana tak tampak,
meski dia adalah batas tatapanku, dimana tak ada apapun dibaliknya.
biar mentari tetap bisu,
meski dia adalah alpha centuryku, tujuan buatku yang berjalan keselatan. seperti halnya ujung pedati sungsang bagi utara.
biar hujan tetap berisik,
meski dia adalah irama, ritme harmonis yang memaksaku terus berdendang.
biar angin tetap bersiul,
meski dia adalah senandung, elegi nada yang membuai.
biar air tetap mengalir tenang,
meski dia adalah rima asmarandhana yang bergejolak.
biar mawar tetap berseri,
meski dia kemuning selamanya.
biar dunia tidak tahu,
meski dia adalah pusat perputaran duniaku, dan semua akan berhenti tanpanya.

hanya taruh aku, dibatas angan dan harapku.

Pandoras, 270709
10.45 wib