Archive for the ‘z. Morning cloud: Rain’ Category

Jika kau baca pesanku,
yang terlontar
seurai embun dibukit sunyi
kenapa kau membuang muka?
hanya cerita sepinya hari
ketika kau pergi
bukankah lebih baik kau disini?!
mengganti hilang  hari-hari itu.
tapi malah kau bilang

“aku pengen sendiri”

haruskah aku?
bilang “ya sudah, pergilah”

andai kau bisa mengerti sunyiku.
itu saja.

akhir juni 2008

Iklan

tentang kesepianku

Posted: 13 April 2009 in z. Morning cloud: Rain

berapa kali aku bilang?
“aku sendiri, namun tak sepi”
engkau ada, selalu ada
meski kadang,
aku mencarimu, menunggumu
duniaku berhenti tanpamu

aku tak merasa dan tak bisa
setia
namun semua tertuju padamu
lalu melepas tatapku darimu?!
aku tak bisa berpaling

dan tentang kesepianku
seperti berselimut sunyi disini
namun berapa kali aku bilang?
“aku sendiri disini, tapi tak sepi”


Dini hari tadi, 27 May ‘08
01.39 wib

dalam diam, bernyanyi sepi
kegalauan dipelukan malam
sendirian di pilu, membatu
dan menghitam kelam, dikegelapan

’dimana beranda?
aku rindu angin ladang yang kering

….

lab bioteknologi UMM, 27 mei ‘08
11.26 wib

Kini Penuh warna, kupupuk. tar percuma
dan kau mawarku, teruslah tumbuh untukku
sampai nanti kau berbunga, bermahkota sempurna

*Takkan terpetik, meski kuncupmu menggodaku
Ah, tak mau kehilangan wanginya

jika melewati waktu kau layu
menunduk dan pilu
aku datang,
kubawakan embun yang
terkumpul di wadah hatiku pagi tadi
sesaat sebelum mandi..

*maukah kau tegak?!
menebar wangi rancak.

dan, jika nanti aku pergi
sebelum renta dan tak bertenaga lagi
teruslah hidup, teruslah berbunga, untukku..

*meski engkau kan bermahkota disamping nisanku

mentari kan terus bersinar untukmu
awan kan mengantar hujanmu
kabut yang berikan embun itu
dan biar angin yang mengantar wangimu

*meski aku tak hidup,

tak inginku kau layu, tak inginku kau pilu..
kau harus hidup, tetap hidup..
ditamanku.. taman hatiku.

sebuah malam, April 9th, 2008

Disamping renjana, aku cemburu
Meratap pilu, hati sendu
Meraba kalbu dalam dahagaku
Senja kini, pagi dulu

Di sudut ini terantuk
Setelah sekian lama meliuk
Ganjaran setimpal untuk mata ngantuk
Hilang bentuk, aku remuk

Dan itu, cermin kusam memantul sepi
Bopeng muka disana-sini
Berteriak, pun memaki
Tak berarti, sampai melayu dan mati

Terbelenggu disitu
Tak berdaya dalam rindu
Dan kebahagiaan disetiap mimpiku
Itu semu, semua palsu

Terjebak aku tercekat
Kedinginan di malam pekat
Disamping, ini pisau berkilat
Bunuh diri? Ah, nekat!

Disebuah Malam, akhir bulan Maret 2008