Arsip untuk September, 2010

Jalan Pattimura

tadi, saat aku lintasi jalan Pattimura
seekor kucing nyaris mati di kilometer dua
untung dia berkelit tepat seperempat detik sebelum roda ini melindasnya
“aman”, katanya sembari mengatur nafas di bawah portal gang tiga

sesampai di pertigaan Untung Surapati
seorang lelaki paruh baya buntung kaki bingung menyeberang jalanan ramai ini
tengok kanan tengok kiri sampai tengadah angkat tangan pun tak ada peduli
seperti halnya aku yang hanya melihatnya dan terus saja berlalu pergi

kemudian tergopoh berjalan mendekat anak kecil dekil dan bau kelihatannya
saat aku berhenti di bangjo perempatan kilometer lima
tanpa basa-basi mengetuk kaca dan segera riuh degan ecek-ecek dari tutup botol coca-cola
menyanyikan lagu macam ‘titip rindu buat ayah’ sedang aku menolehpun tidak apalagi membuka kaca

saat rodaku menapak depan Ramayana
tertampak bapak buntung menelapak minta keping logam atau kertas ber-angka
sepertinya dia macam veteran perang yg terlunta dan terpinggirkan tak ubah film-film dokumenter berdasar realita
atau mungkin saja salah satu korban bencana ini negeri, meledak di tambang batubara misalnya
sedang aku terhenyak saja, takut di klakson dengan irama makian dari Cevrolet di belakang kalau keluar beri kertas berharga

jalan Pattimura berbelok ke utara, tepat di depan hotel bintang lima paling bersinar di kota
seorang ibu tua dan anaknya terjatuh hampir kena rear wing oversize toyota supra
yang keluar lobi dengan drifting ala Tseguri Kanata
sedang penonton adegan live ini hanya tertawa saat si joki berteriak sambil buka kacamata “hei matamu taruh dimana?”

setelah kulintasi jalan Pattimura dan sampai dirumah seperti biasanya
semua seperti biasa saja, membuka garasi dan menuju ruang ganti
seperti hari-hari biasanya, tanpa rasa apa-apa
seperti hari ini, semua biasa saja..

Angklung 10. lantai 1, 16 februari 2010
18.47 wib

 

sajak yang tak pernah bisa terselesaikan

masihkah kau ingat tentang kota ini, cintaku?
saat kau berlari atas rerumputan di rindang pinus cemara
lereng hijau beraroma teh dan dengung kumbang,
dan kau pun menjerit riang di kala pucuk-pucuk embun nakal, basahi jemarimu

angin yang sama sama kurasakan kini, cintaku
dia yang geraikan rambutmu persis di potret itu
sebingkai penuh bunga yang ku petik di sepanjang jalan naik Selecta
tempat kau teriakkan parau,

“aku cinta kamu, dan kotamu”

mungkin tak kau temui disini, cintaku
nada garengpung dan musim kawin kupu-kupu kuning
namun bisa kau raba kabut turun
lalu melenggang di sela mawar dan kupu-kupu yang lain

disini tidak ada derai basah ombak pemecah karang, cintaku
tak ada pula desau ilalang dan aroma sabana panas kering

pernahkah kau temui hujan yang mengembunkan kaca-kaca, cintaku?
atau siluet senja terbata di antara Panderman dan Putri Tidur?
mungkin juga celotehan atap tentang terang mana lampu kota dan bintang disana
rindukah kau pada teratai di alun-alun kota?

bunga-bunga, cemara dan kabut menanyakanmu, cintaku
kemana gadis mungil ber-syal kuning itu berlalu?
lalu kujawab apa ke mentari nanti?

dingin ini semakin mengenangmu cintaku
dingin yang sama seperti masa dimana kau kembangkan lengan dan memelukku
apa masih kau kenakan jaket biru itu dulu?
yang aku tautkan di bahumu saat kau menggigil beku

dan aku tertawa cintaku, aku tertawa..
dingin itu kini masih menerpaku..
masih seperti itu, dan akan tetap seperti itu..

jika pesan tadi sampai padamu, cintaku
mawar-mawar ini masih berayun basah menyimpan tanya resah tentangmu
lereng dan kabut menantimu cintaku, menantimu..
sedang aku masih berdiri dingin, membeku

masih sama di tempat aku melepasmu pergi, dulu itu..

———————————————————————————————————-

Chanoyu Swarnadwipa

Tuan,
kami yang memasak air dari sumur yang tercemar ini merkuri
menyapamu..

kemari saja Tuan, teh hangat kami mengepul ragu
tentu saja tidak beraroma manis melati, atau madu
lalu kenapa kalian malu-malu begitu
senyum itu tetap kelihatan palsu

apa yang menahanmu, Tuan?
bau-bau ledhus dari tubuh mbladhus kami, membuatmu bergidik ngeri?
ah, maklumi sajalah kami, ini tubuh kami yang jauh dari kalian
sedang air ini lebih baik di bikin teh atau kopi timbang buat mandi

Tuan,
kami yang penuh jilatan anjing dari tanah terpinggirkan ini,
menyapamu

kemari saja Tuan, akan kami nyanyikan lagu-lagu perjuangan dari rebana dan violin ini
lusuh memang, tapi masih bertaji mengusir emprit dari sawah-sawah kami
yang sebentar lagi berubah jadi gedung dan menara-menara keji
tempat kalian berpesta, lalu menari dengan pandangan kami punya iri

apa yang menahanmu, Tuan?
usah hiraukan anjing-anjing kami
lihat! kami anti rabies dan kusta, injak saja sampah dan kaleng-kaleng itu Tuan
beginilah isi gedung dan istana yang kami juluki

Tuan, masuk saja dan bergabung dengan ini kami punya surga
teh aroma merkuri dan goyang anjing di suatu senja
ya, di chanoyu swarnadwipa, mari berpesta
kami perlihatkan bagaimana kusta jadi raja

singsingkan Tuan, itu kalian punya baju,
turun dulu dari kendaraan perangmu itu ,
yang dikhususkan untuk mengubur rumah dan mimpi kami
hancurkan saja nanti, toh kami hanya menawari teh dan kopi

biarlah kami, berpesta dulu untuk terakhir kali
atas tanah yang dulu disemai dari darah yang tercecer dari moyang-moyang kami
sedang pertanyaan kemana moyang-moyangmu dulu berlari
tak sedikitpun ada di benak ini

Tuan,
kami yang berpesta di suatu senja dengan teh tercemar merkuri
menyapamu..

dari tempat-tempat anjing kurus menggonggong
dari anak-anak dengan kusta di gendong
dari belakang gedong-gedong kalian yang sombong
dari kehidupan dengan segala perut kosong melompong

dari balik kegagahan seragammu itu Tuan,
ada upeti buat anak kalian makan
sama seperti kami punya kerjaan
bedanya, kau gagah dan arogan, sedang kami selalu kelaparan

Tuan,
kami yang mulai berbenah pergi
menyapamu..

mengucapkan selamat tinggal pada tanah-tanah ini
pada anjing-anjing kami
bernyanyi lagu perjuangan sekali lagi
dan membiarkan kusta dan lepra mengisi tas-tas kami

sampai jumpa Tuan, suatu senja suatu hari
mungkin kalian yang menawari kami teh poci
beraroma melati bukan merkuri
dengan anjing pudel yang pandai menari

Malang, June 21, 2010
20,55 WIB

Iklan

BUNUH SEPI!!!

senja kita ternoda semalam sisa.
mimpi bulan berpendar.
sedang duduk ku di batu pinggir kali.
air dinamis, aku statis,
asyik.

bertukar cibir dan serapah.
akui saja, aku kalah.
kembalilah, atau salah satu dari kita musti enyah.
dan itu pasti aku.
dengan begitu aku bisa melupakanmu.

padahal dulu ku pikir, kita takkan pisah.
oleh kerananya ku samakan derajat.
biar tak ada rasa nista di dirimu.
lihat!
Kita sama.
aku, kamu, tak beda.
berkalang Nanah, busuk!
aroma sampah.
sama sama tertunduk malu saat matari bersemai.

mungkin ada baiknya sudahi saja.
palka bahtera kita rapuh.
tak kuat dan rubuh hanya kerana sentilan ujung ombak.
bagaimana kita bisa bertahan di lautan maha luas??

Sudah, baliklah sana pulang kerumah.
dan aku yang enyah, berkala-kala dan hilang di entah

ah, di batas ini.
ingin kubunuh mimpi dan sepi.
kukaburkan semua hitam.
enyahlah.
biar tak ada lagi aku benci

malang. 141209
15.12 wib


(lebih…)