Arsip untuk Februari, 2010

aku yang tegak di anjungan dengan seutas benang dan layang layang
angkuh berteriak kegirangan pada angin sepoi buritan.
“bawa kami ke pulau pulau”
dimana pala dan kopra akan menjadi pengisi perut anak anak kami
karena sekarang tak akan ada lagi culturstelsel
ato ambon massacre

tak ada lagi gundah serapah pada lautan tak bertuan
apa yang diinginkan anjungan selain angin buritan, biru dan lompat tarian lumba lumba?
sedang goyang layang layang pun indah macam ‘tarian tiang
binal memabukkan laiknya rum rum satu abad di gudang bawah tanah tuan tanah
perjalanan yang indah

sesampai palung disebelah pulau ber-sabana lebar
angin hitam bergulung di timur tampak mendekat dengan bisik bisik macam penjilat ber-rabies
“hei lihat, sebuah layang layang terjuntai tenang dengan benang rapuh tertambat di anjungan yg juga rapuh”
lalu gumulan pun berputar membentuk pusara yang ingin melumat dari arah yg lebih dari 8 mata angin
dan aku bersiap seperti Tunggul Ametung menghadapi Arok di dapurnya, di Keputrennya sendiri
si tua lambat di anjungan kapal yg lelah dengan perjalanan
pasrah??

tetap ku pegang erat ini benang layang layang
sedang sudut mata menangkapnya menari meronta nakal setelah melihat gumulan
lacur!! ku tantang kalian di anjungan yang rapuh kalian bilang.
tak akan kuturunkan kau layang layang meski ku tahu akan terhempas dan hilang di antah..
Kemarilah, sambut ajalmu..

dan lautan kembali hening
tertampak sebuah layang layang melayang jatuh
mengambang sebentar lalu lebur membasah tinggal rangka dilautan maha dalam.

malang, 131209
14.43 wib

gejolak rancak

Posted: 2 Februari 2010 in 1. Sastra, 3. Sajak

kurasa bergerak
berarak..
mungkin beberapa acak
lajulah, tak kan terinjak
aku pun bergerak
sewajarnya rancak
meski kadang ingin berteriak
ku ingin alun riak
yang tak sesuai tampak
mungkin lengking memekak
tak sekedar irama dawai tersentak

lama berkaca tegak
mengurai jejak?!
Tidak!
hati mulai terbohongi otak

ah, tepian dalam pun bergejolak..

tarian tiang

Posted: 2 Februari 2010 in 1. Sastra, 2. Puisi

seketika aku merona
mungkin aku terlalu binal buatmu, purnama.
dalam teduhmu,
kau sibak legam-legam di sela dada dan pahaku.

ha, kau tak bernapsu lagi kurasa..
lalu apa gunanya aku bertelanjang sekarang?
menggodamu dengan tarian tiang?
aku tak ahli tanpa ularnya..

sampai didetik malam menghujam bekunya.
terhenyak belulangku kaku akan renai kabut
dingin!
aku rindu selimut..

pergilah purnama..
aku sudah terbiasa di kamar gelapku..
sempit, pengap, bersawang..
datanglah besok, atau bulan depan
mungkin kau sedikit berpaling tentang tarian tiang..

01.15
june 08, 09

lorong

Posted: 2 Februari 2010 in 1. Sastra, 4. Essay, 5. Cerita Pendek

lorong lorong mendesir irama dan ganda tak sama
selentir jiwa yang masuk terambing pucat
tergoda aroma perawan Drupadi dari sebuah lawang jati berukir
kekalutan, kebusukan, energi mati yang terimpuls meluluhkan dengus berahi tadi.
Terpuruklah bersimpuh,
sedang jalan masuk pun tertutup sudah
di iringi cengir dan dengus memburu dari hawa hangat bawah pusar
Ah, masih ku ingat efek Jaran Goyang dari lelembut terkenal di selatan itu
‘muksa.. muksa!’ teriakan serak dari jiwa yang mengkerut semakin mendorong tubuh dingin itu ke pojok
lumut, serabut di dinding sontak membuka mulut
matilah tinggal tulang, kata takdir
di alam entah dan tak akan ditemukan
hanya lumut dan dinding dan lorong
saat kegelapan kian dekat
saat mata menggelap
dan sebelum semua tamat dalam derajat laknat
selentir jiwa terbayang masa masa musim semi di lembah teduh yg diberkati Pseidon
lembah yang sama dimana Arkantos pernah tertidur dijaga Dwarf dan Nymph
masa masa dimana hati masi suci tapi seputih salju yang segera mencair
hilang. transparan
kesegaran dan aroma seruni segera menyeruak ke lorong itu
mengantarkan bisik membunuh dari bibir ranum yang pernah membakar seisi lembahnya
lembah jiwa itu, kerontang!
dia pun terbakar, membara! dalam lorong yang seakan bergejolak dalam merah.
semua berdesir, lumutpun berlari minggir
selentir jiwa itu pun berontak pergi, berlari dalam arah yang terbimbing merah
peduli apa?
toh akan mati juga, cibir dinding dan lantai
dalam angkara yang murka, Kumbakarna pun membunuh banyak nyawa sebelum muksa.
dia pun bisa
dan hanya sedikit dari jatuhan bintang yg nekat menerobos atmosfer sampai ketanah
dia pun tak peduli
hanya berlari dan berlari
sampai lorong menjadi redup, berubah terang dan akhirnya benderang
dengan ujung tersembul ayunan anggrek dan daun oak yg bergoyang
dia berhenti, tepat di dekat fresia yg menyapa, seperti ucapan selamat datang dari kematian
dan diujung matanya, tertangkap raut Drupadi yang tersenyum sedang duduk dengan pucuk pucuk Aster di bawah pohon Maple
tersenyum padanya, dan melambai.


Malang,  minggu pagi
291109 – 04.42 WIB