Archive for the ‘2. Puisi’ Category

Sepoi Kau Menanti

Posted: 20 Desember 2010 in #30HariPuisi, 1. Sastra, 2. Puisi

kurasakan genggam jemarimu rapuh
semacam biduk terambing badai dilautan
menunggu karam entah suatu kapan

ada yang datang saat hilang, satu kembali jika ada yang pergi
hidupmu, hidupku, adalah angin
suatu masa sepoi, suatu lalu lembut, lain masa tenang, kadang menampar, menerjang.

ratapan mana mampu mereduksi panas matahari?
di malam pekat-pun kurasa kau pernah berkeringat

lalu apa susahnya tertawa? -HAHAHAHAHAHA-
begitu saja.
bagian mana kau tak bisa?

atau kau mau terus tersimpuh nunggu angin?
melepas gerah-gerahmu. dan terbang entah kemana.
silahkan saja.

Malang: Desember 2010
07.40

30 hari Puisi – #17 Angin

dan malam, jikalau dulu mampu jarak ku mampat
kan ku peluk dia yang sekarat.
Lalu kudesahkan di telinganya, tentang hangat matari esok pagi
tentang aku dan dia yang akan berlarian lagi.
suatu nanti.

entah berapa anyelir bersampul pesan buatnya. lalu kemuning?
ah, cinta selalu jawab dengan bulir airmata. dalam hening

semacam pelangi hiasi gerimis senja, kau hanya simphoni dari fatamorgana

andai kau tahu, di tiap hari kematianmu,
kuletakkan sebait puisi rindu dan setangkai mawarbiru dinisanmu.
semacam itulah cintaku

sampai jumpa sayang, di lain pagi.
saat kuncup-kuncup dahlia bermekaran lagi, di ujung batas reinkarnasi

adakah pelukmu menyambutku?

Malang, 19 Desember 2010
07.01

30 Hari Puisi – #16 Kematian

Malam Renai

Posted: 16 Desember 2010 in #30HariPuisi, 1. Sastra, 2. Puisi

malam ini renai, tambah kabut apalagi
sunyi, dihembus sepoi

siluet kuning di marka.
goyang binal lampu merkuri.
jalanan pun mati sunyi.
apalagi yang kutulis selagi renai?

sedang rinduku padamu jelita, luruh aku lupa.
mungkin terbawa alir diselokan,
dan hanyut entah ke muara yang mana.
senja tadi hujan

tadi ada yg mengambang di awal malam
entah egomu, atau hatiku
siapa yang runtuh lebih dulu
satu yang aku suka darimu, Jelita
kau mahir membuat luka
tahu tempat tepat menabur bisa

ah, jam sekian hujan keras menampar
mungkinkah ini mengubah malam
atau membuatnya kian kelam?

siluet-siluet makin tajam memendar marka jalanan
mengabur setiap bayangku tentangmu
semakin kuning, semakin hening
mungkin cerita cinta yang kau gelar di berandamu
juga dagangan rindu-rindu itu
adalah sisa dari kisah ranjang-ranjang kita

ah malam,adakah kiranya sedikit siluet terang?
semacam kunang-kunang,bukan merkuri jalanan.
semua ini tidaklah cukup dengan cahaya dari dua bintang

hujan pergi, renai luruh lagi
semakin sepi, dan aku pergi bersama sepoi

Malang: 16 Desember 2010
18.29

30 Hari Puisi – #13 Siluet

sebuah sajak untuk Alex Hidayat

Ayam berkokok untukmu Alexcobain, bukan Steinbeck, atau Hemmingway
jikalau jemu memuncak di asbak, bawa sikit dalam nyenyak

ah, semalam dia menulis sajak saat ku mulai pejam mata
pagi ini masih bersajak saat aku buka mata

ada cerita disana, seperti senja-pekat-gelap didera petir : getir
juga tatap gelap hati dan imaji pada dunia. binasa membinasa

seteru yang tak juga usai sampai ayam berkokok tentang Hemmingway
satu yang pasti bikin henti, beduk subuh tadi

 

Malang : 12 Desember 2010
05.14

diambil dari kumpulan twit pada tanggal 15 Oktober

 

30 Hari Puisi : #9 Persembahan

catatan : buat yang iri, nanti kubuatkan tema persembahan lagi, khusus tentang Snorkling Mawar Biru, Hikayat Cabe Rawit, dan segala macamnya itu ;))

siang ini, matari meredup
mencipta bayang pena kian panjang
tapi tetap tak hidup
goresnya tak lebih panjang dari dia punya bayang

mungkin saja menuliskanmu adalah kesenangan
tawamu, kerlingmu, semuanya itu. ah! buatku kematian

atau tetap kutuliskan?
toh gelap mengurung 3 jam lagi.
tapi dari tepi mana ku mulai?

mungkin bila kutuliskan semua indahmu itu.
adakah kenang yang tertinggal untukku?
meski tak serupa siluet Panderman, atau bayang baris Putri Tidur.
sebelum pekat menyusup, sebelum mati saat gelap menjari

mungkin nanti, saat senja dan matari hilang dari pandangan
tiada lagi pena berbayang.
sudah bisa kupilah, di ujung mana siluet kerlingmu itu.

Malang, 10 Desember 2010
15.18

30 Hari Puisi : #7 Mungkin