Archive for the ‘4. Essay’ Category

Pagi Biru

Posted: 4 Mei 2011 in 1. Sastra, 3. Sajak, 4. Essay

langit biru
sepoi angin tajam
matari sungsang
lembut kabut
runtuh

aku tertelan

gundah
serapah

source gambar : http://bit.ly/iE7qxk

Iklan

Mimpi California

Posted: 13 Desember 2010 in #30HariPuisi, 4. Essay, 5. Cerita Pendek

untuk Roxane “AuntRocky” Roger Lopez

akan datang suatu masa
dimana aku injakkan kaki ditanahmu, Bibi
negeri entah, setahuku penuh pinus, oak dan pelukanmu.
juga semua ceritamu.

tunggulah di beranda  rumah itu,
yang kau bilang pintunya selalu terbuka untukku
oo California, aku  akan kesana!

apa yang lebih indah dari Chanoyu di berandamu?
dan bulirbulir jatuh yang dinamai salju?
lalu kita mulai berbincang tentang bunga apa yang sepadan untuk halaman itu
juga kebun, kolam pemancingan, -yang katamu- penuh rumput, pinus, dan beberapa squirrel

kau selalu tanya, “baiknya tanah ini ditanami apa?”
bunga Bibi, bunga! banyak bunga! aku suka bunga.
lalu kita akan berjalan bersama, memancing, bakar ikan. dan tertawa.

ah, serasa mimpi. apa aku salah kalo hidup ini berawal darinya?
berapa jumlah mimpi yang jadi nyata?

tunggulah Bibi,
tidak sekarang, tidak lusa, atau tahun depan
Tunggu saja dan tetaplah sehat tanpa kurang suatu apa.

Malang : Desember 2010
23.38

30 Hari Puisi – #10 Rumah

Sesal

Posted: 6 Desember 2010 in #30HariPuisi, 4. Essay, 5. Cerita Pendek

sore ini kau datang. kesekian..

andai gelasku tak hilang, sudah kuseduh kopi
lalu kita bersulang, di nisan ini, seperti dulu

dan, karat yang mengukir bilah belatimu
adalah darah yang mengalir dari hatiku, saat kau menyuruhku pergi dulu

lalu kenapa kau tersedu? hei! sayang, aku mendengarmu
katakan sesuatu..
atau
tangis itu permintaan maafmu?
ah, sudahlah.
andai bisa kau putar waktu, apakah kau masih bersikeras ingin membunuhku?

kau bilang pergi! aku pergi..
tidak ada yg meluluhkanmu saat itu..
sampai setahun yang lalu, kau mulai rajin mengunjungiku.

sudah malam sayang, baik kau pulang..
maaf, sudah kuseduhkan kopi, andai gelasku tak hilang.
dan tolong, tinggal itu belati disini.

 

Malang : 6 Desember 2010
20.02

30 Hari Puisi – #3 Batu

kau yang masih suka delik’an
sembunyikan hatiku di para-para
senyum itu lugu, wahai nona berwajah menawan
sedang aku selalu melonjak girang saat awan melukis nama

dan itu namamu

kenapa tak kau tunjuk saja dimana?
tanpa tanda panah di batas sudut dan ruang
tertawakah kau saat aku mulai tertunduk dalam kegelapan meraba?
memohon dalam samar, lalu pulang

bertanyaku sekali sahaja
ku biarkan angin mendorong awan melukis lagi nama-nama
menunggumu lena, ah.. lama
kenapa tak aku mainkan saja rerumputan, atau bunga-bunga

menghibur diri dengan cerita Parikesit atau nada Dandhang-gula

ini sementara, kau tahu nona?
bermainlah riang dengan hatiku di itu para-para
sampai kau tertidur dalam senyuman
dan aku yang lelah memutari panah dalam kegetiran

nanti, disuatu entah..
dimana hatiku kembali dan menutupi resah
akankah kau masih seriang awan melukis nama-nama?
sedang aku bisa menghabisimu dalam sekejap saja

biar angin tak mengantar aroma itu lagi, dari kotamu.

 

Malang.2010

Agama

Posted: 18 November 2010 in 1. Sastra, 2. Puisi, 4. Essay

Perawan muda di balik jendela.
Menimang mawar, melempar pandang.
Setatap dua bilik mengurai rasa.
Selendang samar, memagar dua utas benang layang.

Sayang, jurang antar jendela kita terlalu curam.
Tak apalah hanya lempar pandang kita punya rasa.
Dan tentang cerita cinta semalam.
Sebatas cerita bunga di jendela.

Perawan muda tersenyum di seberang jendela.
Menimang mawar, melempar pandang.
Memunguti luruhan kelopak berguguran layu.
Begitupun aku.

 

 

Malang. Oktober 7, 2010.
07.56.