Arsip untuk Oktober, 2010

Satu Luka, Menganga!

Posted: 28 Oktober 2010 in 1. Sastra, 2. Puisi

telusuri saja dadaku
kekiri, setinggi siku

kau kan temukan satu lubang
dengan rusuk yang hilang


dari luka itu
sempat juga kau hajar hatiku

Malang, 14 Juni 2010
01.38

Iklan

Sajak Mei

Posted: 12 Oktober 2010 in 1. Sastra, 2. Puisi, 3. Sajak

TEMARAM MALAM

di altar pemujaan kau tersimpuh
sepi menyulam malam
ada kah teman? itu pualam hitam lumpuh
sebatang lilin pun temaram

gaharu, cendana, kau bakar pula
melepas selongsong asap perak ke angkasa
yang menghitam, yang makin kelam
merajut asa harapan karam

di altar pemujaan kau tersimpuh
menunggu batas langit runtuh
adakah teman? itu hanya pualam lumpuh
itu hanya tempat lumut tumbuh

160410-16.35

 

TERTINGGALKAN

dimana lagi kau sapa?
biru langit yang melapangkan jiwa
sementara awan awan hitam jumawa
ialah kabut yang harus kau tembus demi cahaya

pergi

mungkin hanya berlalu saja
hilang dari pandangan dan dirindukan jua
20.04.10 – 17.07

 

SENJA SESUDAH HUJAN

ku tinggalkan sebuah senja dengan
seikat mawar di atas batu

penanda, dulu itu kau pernah menciumku

12.05.2010
15.12 wib

 

AKU JUGA BISA

bisa saja aku berlari ke puncak Arjuna
lalu mencebur diri di lepitan Welirang

atau

bisa pula aku menusukmu dari depan dan belakang
sampai kau lemas mati tak bernyawa

21 Mei 2010
05.03 WIB

 

SAJAK AKHIR MEI

alunan melodi akhir Mei
merapuhkan hati

sedang kupu-kupu kertas yang ku rentang di halaman
luruh dan runtuh di terpa hujan

berapa banyak warna yang luntur?
tersapu begitu saja dalam 1 dentum guntur

ah, simphoni akhir Mei…
hujan masih turun saja di bulan-bulan begini

Malang, 25 Mei 2010.
04.22 WIB

 

JUNI

dan pagi yang beranjak menepi
memutar memori lama akan tawa
disana…
di bukit-bukit sabana
tentang dendang ilalang yang selalu menyeru
langkah kita terburu…
dulu itu,
rembulan separuh tamaram di kelam
sama seperti bayang asa kita yang melayang
melewati kota-kota
ingatkah kau pada kata-kata
“hei sayang, sudahkah awan membisikkan rinduku, yang kutitipkan padanya?”
sedang angin mengaburkan entah dimana…

di sudut biru merindu
kini kau dapati aku

Malang. May 31 2010
03.00

Sajak Petilasan

Posted: 2 Oktober 2010 in 1. Sastra, 2. Puisi, 3. Sajak

PETILASAN I

ketika gelap mendekap
gigil kuat menyekap
ku lihat bayang mendekat samar
dari balik kilat halilintar

pun hati terpagut
menelisik arah di balik kabut
kenapa pula suara suara muksa
hilang begitu saja di balik renjana

dan dedaunan yang bernyanyi
mengalirkan itu tetes langit punya elegi
kenapa tak kau cabut saja bulu Kumbakarna
melebur itu Rama punya cinta

sedang kau terus saja mendekat
meski samar memindai jarak dalam pekat
kalau memang halilintar mengirim cahaya
biar di bakar pula altar beserta dupanya

April, 27 – 2010. Pacitan pada sebuah setatus
18.53 wib


PETILASAN II

dan
malam yang bermetamorfosa sempurna
Merajut jala sutra menjadi renda

aku masih saja terduduk hening memeluk sebatang kemuning

di petilasan,
tempat kau membakar dupa dan kayu manis
tempat kau mengubur hatiku yang teriris.

Pacitan, 29 April 2010
18.27 wib