Archive for the ‘5. Cerita Pendek’ Category

selarut ini, kususuri trotoar dalam gelap malam sepi
sebakar kretek, telusup kabut pendar lampu jalanan. aku sendiri

ah, ada kucing kecil mengigil di pinggir jalan,
sebelahnya segeletak tubuh terbujur tidur.
baunya pesing. berselimut koran, kedinginan.
heran!
kupandangi dua makhluk sambil isap kretek dalamdalam

rupanya dia bangun, lalu tersenyum.
giginya putih, bersih.
malumalu kutawarkan kretek lalu bergegas pergi
saat itu disambarnya tanganku
“kemana kawan?” tanyanya
“hujan datang bentar lagi, mana kalengmu? air ini berkah Tuhan. mari bersulang atas nama kelaparan”

GILA!

tersenyum lagi, aku pergi saja.
dia mulai berontak, berteriak!

“kemana kau pergi?”
“sampahsampah, kolong jembatan, koran, trotoar adalah tempat untuk kita, sayang”
“berkenankah dirimu, aku, kita, kusebut korban ketamakan?”
“mungkin tiada kuberi fressia, untai mutiara dari palungpalung Banda”
“hanya selimut ini, sayang, diriku! selimut abadimu, hanya itu!”
“tatap ini sudahkah memastikan diriku : untukmu?”
“jangan pergi sayang, jangan!”
“selama hujan tidak berhenti, selama angin terus bawa badai, kita tidak akan mati kelaparan”
“lalu kita melanglang, sayang! ke sabana! ke stepa! siapa bisa menahan deru langkah kita?”
“hujan akan terus memberi makan kita. sayang.. hujanlah harapan!”

GILA!

suaranya hilang ditelan tikungan. hujan semakin deras, mengeras.
tengah malam kali ini basah, renai semilir telasah, dan hanya gelap jika kau mau tengadah.
telusup kabut bikin mati lampulampu. sepi. sendiri.
kalau hujan memang harapan, kemana purnama malam ini?

Raya Mulyoagung : 18 Desember 2010
sebuah malam.

30 Hari Puisi – #15 Harapan

Mimpi California

Posted: 13 Desember 2010 in #30HariPuisi, 4. Essay, 5. Cerita Pendek

untuk Roxane “AuntRocky” Roger Lopez

akan datang suatu masa
dimana aku injakkan kaki ditanahmu, Bibi
negeri entah, setahuku penuh pinus, oak dan pelukanmu.
juga semua ceritamu.

tunggulah di beranda  rumah itu,
yang kau bilang pintunya selalu terbuka untukku
oo California, aku  akan kesana!

apa yang lebih indah dari Chanoyu di berandamu?
dan bulirbulir jatuh yang dinamai salju?
lalu kita mulai berbincang tentang bunga apa yang sepadan untuk halaman itu
juga kebun, kolam pemancingan, -yang katamu- penuh rumput, pinus, dan beberapa squirrel

kau selalu tanya, “baiknya tanah ini ditanami apa?”
bunga Bibi, bunga! banyak bunga! aku suka bunga.
lalu kita akan berjalan bersama, memancing, bakar ikan. dan tertawa.

ah, serasa mimpi. apa aku salah kalo hidup ini berawal darinya?
berapa jumlah mimpi yang jadi nyata?

tunggulah Bibi,
tidak sekarang, tidak lusa, atau tahun depan
Tunggu saja dan tetaplah sehat tanpa kurang suatu apa.

Malang : Desember 2010
23.38

30 Hari Puisi – #10 Rumah

kembali ke teduh melinjo, halaman joglo
kipas kering daun pisang dengan nuansa maskumambang.
bapak tua pegang sarung, kicau kutut manggung
melilit paha, buka dada, desau jadi irama

sekar – kinanthi
gambuh
dandanggula
adalah cengkok paling teduh ke ulu jiwa

dulu, dibawah teduh melinjo
tembang merayu bocah-bocah ingusan.

ora liwat tuturku
marang sira sing sregep sinau
maca etung nulis nggambar sing taberi
ajar wulangane guru
aja wedi atetakon

sesampai dewasa, kemana rayu dandanggula?
berganti kirab lelaku malam gulita
dupadupa! sesaji! altar-altar suci dinodai
edan!

ingsun amatak ajiku si semar mesem
mutmutaku inten, cahyane manjing ono pilinganku, kiwo-tengen
sing nyawang kegiwang
opo maneh yen sing nyawang kang tumancep kumanthil in telenging sanubariku
yo iku si jabang bayi…
wis tentu welas asih marang badahan saliraku

sawiji nunggaling aji
jangankan jalmo menungso, Demit pun menari
muksa! manusia gendeng!
jaman edan oalah jaman edan!!

dan kini, di bawah teduh melinjo.
kutaburi sebuah nisan dengan melati
semacam sesak menyeruak. meluap teriak!!
seorang bapak tua mati dengan sebuah kata: LEKRA

genjer-genjer neng ledokan pating keleler…
genjer-genjer neng ledokan pating keleler!

 

Malang, 11 Desember 2010
03.42

30 Hari Puisi : #8 Mantra

Sesal

Posted: 6 Desember 2010 in #30HariPuisi, 4. Essay, 5. Cerita Pendek

sore ini kau datang. kesekian..

andai gelasku tak hilang, sudah kuseduh kopi
lalu kita bersulang, di nisan ini, seperti dulu

dan, karat yang mengukir bilah belatimu
adalah darah yang mengalir dari hatiku, saat kau menyuruhku pergi dulu

lalu kenapa kau tersedu? hei! sayang, aku mendengarmu
katakan sesuatu..
atau
tangis itu permintaan maafmu?
ah, sudahlah.
andai bisa kau putar waktu, apakah kau masih bersikeras ingin membunuhku?

kau bilang pergi! aku pergi..
tidak ada yg meluluhkanmu saat itu..
sampai setahun yang lalu, kau mulai rajin mengunjungiku.

sudah malam sayang, baik kau pulang..
maaf, sudah kuseduhkan kopi, andai gelasku tak hilang.
dan tolong, tinggal itu belati disini.

 

Malang : 6 Desember 2010
20.02

30 Hari Puisi – #3 Batu

kau yang masih suka delik’an
sembunyikan hatiku di para-para
senyum itu lugu, wahai nona berwajah menawan
sedang aku selalu melonjak girang saat awan melukis nama

dan itu namamu

kenapa tak kau tunjuk saja dimana?
tanpa tanda panah di batas sudut dan ruang
tertawakah kau saat aku mulai tertunduk dalam kegelapan meraba?
memohon dalam samar, lalu pulang

bertanyaku sekali sahaja
ku biarkan angin mendorong awan melukis lagi nama-nama
menunggumu lena, ah.. lama
kenapa tak aku mainkan saja rerumputan, atau bunga-bunga

menghibur diri dengan cerita Parikesit atau nada Dandhang-gula

ini sementara, kau tahu nona?
bermainlah riang dengan hatiku di itu para-para
sampai kau tertidur dalam senyuman
dan aku yang lelah memutari panah dalam kegetiran

nanti, disuatu entah..
dimana hatiku kembali dan menutupi resah
akankah kau masih seriang awan melukis nama-nama?
sedang aku bisa menghabisimu dalam sekejap saja

biar angin tak mengantar aroma itu lagi, dari kotamu.

 

Malang.2010