angin ini semilir
berhembus konstan dari jendela coklat berkaca gelap
tetap saja gerah
apa harusku telanjang?

sedang menyelam di lubuk dalam
pun takut tenggelam
kemanakah renai?
rinduku pada bulirnya melambai

kupu-kupu origami berputar ditempa lampu redup kamar
membentuk siluet terpantul ditepian sarang laba-laba nakal
di seutas benang mereka riang
sedang yang bebas tak bisa melayang

cih! senja.. senja!
berapa banyak keringat tertetes untuk sampai padamu?
dan mati di pagi terlalu sayang di jumpai
lihat berapa bnyk yg bertahan tuk mengucap selamat tinggal pada raja siang

sesampai malam
antri gelap berselimut pekat
yang berkerlip mimpi-mimpi, ya.. ruang gelap bertabur mimpi
akan pagi entah, atau sebatas ilusi reinkarnasi

hmm..

atau kubuka saja penuh jendela
biar angin makin leluasa
demi gerah-gerah kita
biar tak perlu bertelanjang untuk melayang

ah, tetap saja rinduku belai renai

malang, 211009
13.52

belenggu kaku,
tentang galau akan rindu .
Dulu secuil, kini menjamah darah.
Mengurat, mengalir, memerah.

Nadamu kelu
terucap satu satu,
kau terpaku.
aku bisu.

Kenapa tak kau sibak saja renjana timur?
timbang mendengkur.
biarkan pengap menggelap,
semakin kalap?

Ah, andai saja marsoninna meluruhkan semua daun.
dan ranting-ranting telanjang kepanasan melamun.
kau malu, aku mau.
ingin kuloncati saja pulau-pulau..

melepas hasrat yang tertunda 3 musim..

 

 

 

Marlboro 18 B, 20 Oktober 2009

11:11 +8 GMT

langit biru
sepoi angin tajam
matari sungsang
lembut kabut
runtuh

aku tertelan

gundah
serapah

 

 

kegerahan di pagi

senada hiruk mengusik liang kupingku
saat kususuri trotoar lusuh, sepagi ini.
tak ada serapah kurasa, dimana mereka serentak pergi..
sedang aku berjalan pulang ke ranjang..

dan itu, semendung kabut menghantar
aroma getir perjalanan yang membuat beberapa nyawa memilih berakhir di seutas tali
di pohon Serut, bahkan Trembesi..
malah ada yang berharap suntik mati dengan modal belati di pasar

sepi! sepi..

sisa aroma kemenyan semalam..
masih terendus di perut-perut buncit itu juragan disana..
tertawa lebar pada jalanan..
Pergilah ke Gunung Kawi seperti kami!

senada hiruk kian mengusik liang kupingku
asap dan deru bercengkerama manja, sepagi ini
membentuk siluet upa segenggam nasi
sedang aku melantun sajak dari lagu itu semalam

dan tentang seberandal bocah dengan mulut berbau kretek.
menggenggam ecek-ecek pun mereka riang..
itu lampu merahlah padam..
Bang.. lima ratus perak lah buat kami makan..

sepi! sepi..

adakah kuas melukis mantra?
di pohon-pohon bercat putih itu
kalau kau gambar monalisa, ku beli juga itu muka..
sayang kau hanya menanti seribu di kotak kayu dudukmu.

senada hiruk bosan mengusik liang kupingku
membuatku budek-budrek, sepagi ini..
dan kembaliku ke tepi, sendiri mendengkur berharap mimpi.
mungkin saja aku berakhir seperti mereka, suatu kapan..

malang, 8 Oct 09.
10.25.

saat itu mendung,
lalu sekepak sayap kupu-kupu coklat menyentakku tepat di kepala. jendela ini terlalu lebar untuknya, atau angin mengantarkan?!

dia menari
meliuk tiga kali
dan hinggap di antara dua sawang kering
didekat lampu dia mengerling

nakal..
aku mulai menyukainya. agak binal saat meliuk, tahu kah kau erang desah polos dan sebenar membuatmu ejakulasi dini? bukan coklatnya. bahkan Poisoned Kissnya Liliana Sanchez lebih berwarna. padahal itu sudut tergelap di ruangan ini.

mengerling-pun lugu
serupa liana tumbuh terburu

membisuku, sedang kupu-kupu itu mulai berkuasa diruangku. padahal aku secara de fakto adalah pemilik tunggal jengkal 8 meter persegi ini.
dia terbang, mengerjap sekali lagi, setelah melewati lemari dia mencoba pergi. reflek aku berdiri, menekan roling kelambu dan mengunci jendela pintu. dia hanya tertawa, berbalik lalu hinggap lagi di potret menjijikkan berjudul Missing You..
menggodaku, paling tidak membiarkan dirinya dan pasrah aku goda.
mendekatku, berbisik nakal mendesahkan kidung Asmarandhana. dia mengejap lagi, merangkulkan sayap, menempelkan sungut.
dengan nada lemah bergairah dia berbisik “bagaimana caranya?”

lalu kami pun bercinta..

Pacitan, kamar bisu 270909.
01.34 WIB

sulit rasa memenjara hati menjadi diri
ketika binal desah fajar merasuki
satu, dua, denyit nafas yang beradu diantara denting suara kertas
beringas!

Seperti ku dengar lagi cerita lama
dimana Ra dan Kronos mulai membuka tabir gerbang titannya.
Hingga Andalusia pun runtuh menunggu.
Dan Odin memilih bisu mengukir salju

dan kau?
Memintaku berhembus membawa fresia
tak sedikitpun aku tau.
Karena aku hanya punya forsythia

aster itu telah terangkai lengkap sebagai ambrosia

dan tentang Shasta yang berkuda ke utara
terus melirik ke timur dimana stepa berbatas bunga matahari
mencoba mengerti bias dibalik cahaya
tak ada pagar, atau dinding, kalau kau mau datanglah kemari

tergoda? Tentu saja..
Adakah yang berpaling dari liuk Shaskia?
Botol botol rum pun berserakan
tak terpedulikan

aku hanyalah hembusan stepa basah
berirama pasrah yang jatuh tak berpenggalah
mungkin kau bilang, sudah tercipta untuknya ranting, daun dan bungamu
tapi kurasa, bisa kutumbuhkan lagi sendiri untukku.

Pun ambrosia untuknya dariku.

Dan memang, ladangmu telah cerah dengan mentarimu
dan stepaku telah basah akan hujanku
namun, akan terus terhembus angin pasrah yang bergairah
di setiap fajar yang selalu resah

catatan kloset, Pacitan 260909.
Sepenggalah pagi.

duduklah kau disitu
serendra nada serapah pun terpantul
sunyi, sendiri itu nikmati.
sepetak dunia ciptaanmu ini tak jua kau akui

pacak! pacak!
kemana beranjak picak?
Berteriakpun kosong.
Tak ada dinding pengembali gaung.
sebut Tuhanmu jika kau tak malu

tetap duduklah disitu
ngeri dan sunyi itu nikmati.

Ba’da Magrib, 030809
18b, 65151

tampar aku,
jika ku mulai membicarakannya.
bangunkan aku,
jika ku mulai mengigaukannya.
bakar aku,
jika ku mulai menggigil merindukannya.
sumpal aku,
jika ku mulai berdendang untuknya.
potong jemariku,
jika ku mulai menulis sajak tentangnya.
pasung aku,
jika ku berencana mendatanginya.
pendam aku,
jika ku mulai memasang sayap menggapainya.
benamkan aku,
jika ku mulai berenang menujunya.
bongkar otakku,
jika ku mulai memikirkannya.
cacah hatiku,
jika ku mulai menyembunyikan namanya.
biar renjana tak tampak,
meski dia adalah batas tatapanku, dimana tak ada apapun dibaliknya.
biar mentari tetap bisu,
meski dia adalah alpha centuryku, tujuan buatku yang berjalan keselatan. seperti halnya ujung pedati sungsang bagi utara.
biar hujan tetap berisik,
meski dia adalah irama, ritme harmonis yang memaksaku terus berdendang.
biar angin tetap bersiul,
meski dia adalah senandung, elegi nada yang membuai.
biar air tetap mengalir tenang,
meski dia adalah rima asmarandhana yang bergejolak.
biar mawar tetap berseri,
meski dia kemuning selamanya.
biar dunia tidak tahu,
meski dia adalah pusat perputaran duniaku, dan semua akan berhenti tanpanya.

hanya taruh aku, dibatas angan dan harapku.

Pandoras, 270709
10.45 wib

seketika aku merona
mungkin aku terlalu binal buatmu, purnama.
dalam teduhmu,
kau sibak legam-legam di sela dada dan pahaku.

ha, kau tak bernapsu lagi kurasa..
lalu apa gunanya aku bertelanjang sekarang?
menggodamu dengan tarian tiang?
aku tak ahli tanpa ularnya..

sampai didetik malam menghujam bekunya.
terhenyak belulangku kaku akan renai kabut
dingin!
aku rindu selimut..

pergilah purnama..
aku sudah terbiasa di kamar gelapku..
sempit, pengap, bersawang..
datanglah besok, atau bulan depan
mungkin kau sedikit berpaling tentang tarian tiang..

Marlboro, june 08, 2009
01.15

sendu rindu beku..

semua pilu…

acaklah..!!

leburlah..!!

menjadi satu dan tercipta rupa.. bukan fatamorgana..

Jelaga?!

Free Image Hosting at www.ImageShack.us
Hanyalah selubung hitam,
mencoba mengurai dan memudar..
bersama angin, dan hujan..
itu saja..

Rak Kotorku

kertas-kertas usang

pasang-surut

  • 1,163 hits

Kalender

November 2009
M S S R K J S
« Okt    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Twitter

  • selamaaaaaaat malammmm duhai kekaseeeehhh.... *sarap* 3 weeks ago
  • bangun tidur jam 4.30. tlp pacar dgn semangat baru, berharap hari baru. Eh, malah diajak brantem. *curhat* mendadak pengen selingkuh. 1 month ago