senada hiruk mengusik liang kupingku
saat kususuri trotoar lusuh, sepagi ini.
tak ada serapah kurasa, dimana mereka serentak pergi..
sedang aku berjalan pulang ke ranjang..
dan itu, semendung kabut menghantar
aroma getir perjalanan yang membuat beberapa nyawa memilih berakhir di seutas tali
di pohon Serut, bahkan Trembesi..
malah ada yang berharap suntik mati dengan modal belati di pasar
sepi! sepi..
sisa aroma kemenyan semalam..
masih terendus di perut-perut buncit itu juragan disana..
tertawa lebar pada jalanan..
Pergilah ke Gunung Kawi seperti kami!
senada hiruk kian mengusik liang kupingku
asap dan deru bercengkerama manja, sepagi ini
membentuk siluet upa segenggam nasi
sedang aku melantun sajak dari lagu itu semalam
dan tentang seberandal bocah dengan mulut berbau kretek.
menggenggam ecek-ecek pun mereka riang..
itu lampu merahlah padam..
Bang.. lima ratus perak lah buat kami makan..
sepi! sepi..
adakah kuas melukis mantra?
di pohon-pohon bercat putih itu
kalau kau gambar monalisa, ku beli juga itu muka..
sayang kau hanya menanti seribu di kotak kayu dudukmu.
senada hiruk bosan mengusik liang kupingku
membuatku budek-budrek, sepagi ini..
dan kembaliku ke tepi, sendiri mendengkur berharap mimpi.
mungkin saja aku berakhir seperti mereka, suatu kapan..
malang, 8 Oct 09.
10.25.


Catatan kecil