Serunai Layu

Posted: 9 Desember 2010 in #30HariPuisi, 1. Sastra, 2. Puisi

renai, awal pagi ini
terwarnai siluet kuning lampu jalan
memantul pucat mahkota serunai, diterpa hembus angin pelan
jalanan masih sunyi

hanya aku dan serumpun serunai layu

kepucatannya membawa aku pada kembara
cerita-cerita di kelopak yang menua
rumpun bebas di tepi ilalang
angin mengabur bayang mereka punya selendang : tembus pandang!

tangan siapa yang merenggut lalu?

ah, andai aku bisa memindahnya
sudah kutanam lagi dia di hutan
ditepian ilalang dengan pinus menjulang
sabana! stepa! tempat mereka berdendang dengan kupu-kupu

tapi aku tidak bisa membawamu, serunai layu

renai, awal pagi ini
berganti gerimis dan kabut mendung kelabu
pijar siluet yang padam,  aku berlalu
diiringi tatapan pilu serunai layu, semakin pucat : mati beku!

 

Malang : sebuah pagi 9 Desember 2010
04.52

30 Hari Puisi : #5 Pucat

Komentar
  1. rauuu mengatakan:

    hhhh… sedih….😦

  2. niskalajiwa mengatakan:

    dakah hangat candaku mampu menghangatkan hatimu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s