Batas Ruang, dan Awan Terlukis Nama-Nama

Posted: 27 November 2010 in 4. Essay, 5. Cerita Pendek

kau yang masih suka delik’an
sembunyikan hatiku di para-para
senyum itu lugu, wahai nona berwajah menawan
sedang aku selalu melonjak girang saat awan melukis nama

dan itu namamu

kenapa tak kau tunjuk saja dimana?
tanpa tanda panah di batas sudut dan ruang
tertawakah kau saat aku mulai tertunduk dalam kegelapan meraba?
memohon dalam samar, lalu pulang

bertanyaku sekali sahaja
ku biarkan angin mendorong awan melukis lagi nama-nama
menunggumu lena, ah.. lama
kenapa tak aku mainkan saja rerumputan, atau bunga-bunga

menghibur diri dengan cerita Parikesit atau nada Dandhang-gula

ini sementara, kau tahu nona?
bermainlah riang dengan hatiku di itu para-para
sampai kau tertidur dalam senyuman
dan aku yang lelah memutari panah dalam kegetiran

nanti, disuatu entah..
dimana hatiku kembali dan menutupi resah
akankah kau masih seriang awan melukis nama-nama?
sedang aku bisa menghabisimu dalam sekejap saja

biar angin tak mengantar aroma itu lagi, dari kotamu.

 

Malang.2010

Komentar
  1. Tuan Adan mengatakan:

    Amankan posisi pertamax😛
    //dilempar buku baru//

  2. @rosadicted to me mengatakan:

    bahasanya berat namun mantap!
    *nyimak lagi*
    *cari kamus*

  3. Ceritaeka mengatakan:

    Kalo mbaca2 puisi begini, kadang terbersit penasaran… kalo gue pacaran ama penyair gmn rasanya yaaa😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s