Yang Mati Yang diTangisi

Posted: 16 November 2010 in 1. Sastra, 3. Sajak

Ini malam sepi, hujan apalagi.
Temanku hanya kucing kawin di beranda

Ah, elok aku pergi ke hutan.
Memindah luruhan kamboja ke halaman.
Kupetakkan satu-satu macam nisan.
Disini, telah beristirahat dengan tenang: sebuah kedamaian.

Dan katak-katak berdendang.
Kunang-kunang berpendar: terang.
Peri pohon, anjing buduk, melolong bersahutan.
Aneh, Riuh sekali dengar kematian.

Atau memang begini?
Ramai ada mati.
Sedang di hidup sekali, mereka diam saja.
Tegur sapa pun tak ada, apalagi tatap muka.

Nyatanya, malam ini masih sepi, ditambah hujan apalagi.
Eh? Kemana itu kucing kawin di beranda?

 

 

Jogjakarta : Dini Hari
September. 2010

Komentar
  1. dewi ketujuh mengatakan:

    ah, keren ini…
    tolong ajari sayaaaaa….. *mengiba*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s