Sajak Petilasan

Posted: 2 Oktober 2010 in 1. Sastra, 2. Puisi, 3. Sajak

PETILASAN I

ketika gelap mendekap
gigil kuat menyekap
ku lihat bayang mendekat samar
dari balik kilat halilintar

pun hati terpagut
menelisik arah di balik kabut
kenapa pula suara suara muksa
hilang begitu saja di balik renjana

dan dedaunan yang bernyanyi
mengalirkan itu tetes langit punya elegi
kenapa tak kau cabut saja bulu Kumbakarna
melebur itu Rama punya cinta

sedang kau terus saja mendekat
meski samar memindai jarak dalam pekat
kalau memang halilintar mengirim cahaya
biar di bakar pula altar beserta dupanya

April, 27 – 2010. Pacitan pada sebuah setatus
18.53 wib


PETILASAN II

dan
malam yang bermetamorfosa sempurna
Merajut jala sutra menjadi renda

aku masih saja terduduk hening memeluk sebatang kemuning

di petilasan,
tempat kau membakar dupa dan kayu manis
tempat kau mengubur hatiku yang teriris.

Pacitan, 29 April 2010
18.27 wib

Komentar
  1. almascatie mengatakan:

    commment!

    *koment setelah ditodong*

  2. yayan mengatakan:

    pacitan?? lah, saya dari kota itu jeh.. hehe..

    sungguh halus mas puisinya, cocok dengan suasana senjanya..

  3. sayur asem mengatakan:

    *melintas disela gerimis senja*

  4. muhamaze mengatakan:

    ngintip doank… tanpa tinggalkan pesan..

  5. ulan mengatakan:

    wooohh.. iki puisi patah hati ta ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s