Beberapa catatan, pada sebuah pergantian tahun

Posted: 26 September 2010 in 1. Sastra, 2. Puisi, 3. Sajak, 4. Essay, 5. Cerita Pendek

BUNUH SEPI!!!

senja kita ternoda semalam sisa.
mimpi bulan berpendar.
sedang duduk ku di batu pinggir kali.
air dinamis, aku statis,
asyik.

bertukar cibir dan serapah.
akui saja, aku kalah.
kembalilah, atau salah satu dari kita musti enyah.
dan itu pasti aku.
dengan begitu aku bisa melupakanmu.

padahal dulu ku pikir, kita takkan pisah.
oleh kerananya ku samakan derajat.
biar tak ada rasa nista di dirimu.
lihat!
Kita sama.
aku, kamu, tak beda.
berkalang Nanah, busuk!
aroma sampah.
sama sama tertunduk malu saat matari bersemai.

mungkin ada baiknya sudahi saja.
palka bahtera kita rapuh.
tak kuat dan rubuh hanya kerana sentilan ujung ombak.
bagaimana kita bisa bertahan di lautan maha luas??

Sudah, baliklah sana pulang kerumah.
dan aku yang enyah, berkala-kala dan hilang di entah

ah, di batas ini.
ingin kubunuh mimpi dan sepi.
kukaburkan semua hitam.
enyahlah.
biar tak ada lagi aku benci

malang. 141209
15.12 wib


———————————————————————————————————–

TENTANG MAWAR (yang ramai di bicarakan)

dan aku yang berdiri saat hujan
mematung didepan gerbang yang membatasi
aku, mawarku, dan tamanku.
seberapa kuat lagi cengkeraman?
duri yang tajam, hujan yang semakin membadai
tubuh dekil menggigil.

ini mawar yang ramai dibicarakan
kelopak-kelopak beku mulai jatuh
tetes-tetes darah mengambang
dan hujan yang beranjak terang
sedang aku berdiri disini, sampai kapan?!

EKA 24, seat 07 dibalik kaca pada sebuah perjalanan.
241209. 22.15 WIB.

———————————————————————————————————–

BIASANYA DIA

*m.a.h

seperti dia biasanya
meringkuk nunduk di pojok kamar
bening menetes pelan, tersamar
sedang sebelah mata mengintip baris hujan dari celah cendela

pengap sawang temannya

seperti dia biasanya
menutup rapat kamar lalu gelap
mencipta hampa di antara ruang, dan dirinya
dinding semakin hitam lalu menjauh

aroma sepi nafasnya

seperti dia biasanya
melolongkan serak suara bisu
yang mudah saja dipantulkan hampa, ciptaannya
dan dinding yang masih saja tertawa renyah tertahan

gelisah mati angannya

seperti dia biasanya
berharap keluar saja dari kehitaman
tanpa berani berdiri sebentar, di bawah matari
atau sekadar berpaling dari sudut mana angin berhembus

irama isak dendangnya

ah, itu bukan biasanya dia
mengambil pecahan kaca pigura sisa potret dirajam, ditendang
menjadi akhir dan pemisah
pengantar jiwa lusuh terbang ke dunia entah


080110. 17.38

———————————————————————————————————–

LAMUN SEPI

kadang,
ingin melebur di pusara kelam
tak kembali
kadang,
ingin menumpah riuh angin
pergi
kadang,
ingin mati cukup sekali
tanpa reinkarnasi

13012010. 10.27

———————————————————————————————————–

SIA-SIA

*andung

Larilah kau kejar, ku rayu
saat ambrosianya kau tampik, berserakan
begitupun aku, hatiku
pun kau menghilang serupa bintang di balik awan, tersamarkan

resah berharap angin pusaran

dimana engkau? peri kecilku..
sisa kepakan itu masih mencipta spektrum
mengawangkan aku yang melayang jatuh bisu
masih terus berangan kau kembali sebelum aku mati mendebum

resah berharap spektrum warna memendar pelangi sekali lagi

kalaupun harus begini akhir nanti
akankah kau terus mengintip dibalik mendung
siap mengucur hujan terselubung
disaat tepat aku menyentuh tanah dan mati

ataukah, kubiarkan saja diriku resah di tiap detik jatuh dengan sepuluh kecepatan grafitasi?

Angklung 10, 3rd floor. Malang 17012010
17.03 wib

Komentar
  1. infoter mengatakan:

    nice info…

  2. Fida mengatakan:

    sperti nya format baru nih jelaga …
    lebih keren design nya… puisinya luar biasa apik …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s