katakan saja

Posted: 13 November 2009 in 1. Sastra, 2. Puisi

belenggu kaku,
tentang galau akan rindu .
Dulu secuil, kini menjamah darah.
Mengurat, mengalir, memerah.

Nadamu kelu
terucap satu satu,
kau terpaku.
aku bisu.

Kenapa tak kau sibak saja renjana timur?
timbang mendengkur.
biarkan pengap menggelap,
semakin kalap?

Ah, andai saja marsoninna meluruhkan semua daun.
dan ranting-ranting telanjang kepanasan melamun.
kau malu, aku mau.
ingin kuloncati saja pulau-pulau..

melepas hasrat yang tertunda 3 musim..

 

 

 

Marlboro 18 B, 20 Oktober 2009

11:11 +8 GMT

Komentar
  1. ramudeng mengatakan:

    puisinya bagus, tapi isi kepala saya yang kurang bagus. Saya ndak ngerti mananya -:mrgreen:

  2. ramudeng mengatakan:

    jiaahh…komennya typo
    ralat :
    mananya = maknanya,
    -:mrgreen: =:mrgreen:
    Sttt… pura2 ndak tau aja ya.

  3. Anonim mengatakan:

    wew keren bener,,!!

  4. haziran mengatakan:

    terimakasih semuaaaa😀

  5. tuti anggraeni mengatakan:

    keren,salut deh………

  6. haziran mengatakan:

    terimkasih mbak Tuti, puisi anda juga keren kok🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s