‘resah persimpangan’

Posted: 11 Oktober 2009 in 1. Sastra, 2. Puisi, 4. Essay

sulit rasa memenjara hati menjadi diri
ketika binal desah fajar merasuki
satu, dua, denyit nafas yang beradu diantara denting suara kertas
beringas!

Seperti ku dengar lagi cerita lama
dimana Ra dan Kronos mulai membuka tabir gerbang titannya.
Hingga Andalusia pun runtuh menunggu.
Dan Odin memilih bisu mengukir salju

dan kau?
Memintaku berhembus membawa fresia
tak sedikitpun aku tau.
Karena aku hanya punya forsythia

aster itu telah terangkai lengkap sebagai ambrosia

dan tentang Shasta yang berkuda ke utara
terus melirik ke timur dimana stepa berbatas bunga matahari
mencoba mengerti bias dibalik cahaya
tak ada pagar, atau dinding, kalau kau mau datanglah kemari

tergoda? Tentu saja..
Adakah yang berpaling dari liuk Shaskia?
Botol botol rum pun berserakan
tak terpedulikan

aku hanyalah hembusan stepa basah
berirama pasrah yang jatuh tak berpenggalah
mungkin kau bilang, sudah tercipta untuknya ranting, daun dan bungamu
tapi kurasa, bisa kutumbuhkan lagi sendiri untukku.

Pun ambrosia untuknya dariku.

Dan memang, ladangmu telah cerah dengan mentarimu
dan stepaku telah basah akan hujanku
namun, akan terus terhembus angin pasrah yang bergairah
di setiap fajar yang selalu resah

catatan kloset, Pacitan 260909.
Sepenggalah pagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s