kemuning

Posted: 1 Oktober 2009 in 1. Sastra, 3. Sajak, 4. Essay

tampar aku,
jika ku mulai membicarakannya.
bangunkan aku,
jika ku mulai mengigaukannya.
bakar aku,
jika ku mulai menggigil merindukannya.
sumpal aku,
jika ku mulai berdendang untuknya.
potong jemariku,
jika ku mulai menulis sajak tentangnya.
pasung aku,
jika ku berencana mendatanginya.
pendam aku,
jika ku mulai memasang sayap menggapainya.
benamkan aku,
jika ku mulai berenang menujunya.
bongkar otakku,
jika ku mulai memikirkannya.
cacah hatiku,
jika ku mulai menyembunyikan namanya.
biar renjana tak tampak,
meski dia adalah batas tatapanku, dimana tak ada apapun dibaliknya.
biar mentari tetap bisu,
meski dia adalah alpha centuryku, tujuan buatku yang berjalan keselatan. seperti halnya ujung pedati sungsang bagi utara.
biar hujan tetap berisik,
meski dia adalah irama, ritme harmonis yang memaksaku terus berdendang.
biar angin tetap bersiul,
meski dia adalah senandung, elegi nada yang membuai.
biar air tetap mengalir tenang,
meski dia adalah rima asmarandhana yang bergejolak.
biar mawar tetap berseri,
meski dia kemuning selamanya.
biar dunia tidak tahu,
meski dia adalah pusat perputaran duniaku, dan semua akan berhenti tanpanya.

hanya taruh aku, dibatas angan dan harapku.

Pandoras, 270709
10.45 wib

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s