malam temaram gigilmu akan cerita senja: kelam kau tengok jalanan tadi? tiada bunga bisa kau ciumi ada nestapa luruh tibatiba disela renai kabut pagi buta dalam entah, kuhembus asap lisong mengering-basah akan kau cari kemana cahaya jika tak tunggu pagi? kini coba kau tulis sampah aroma merkuri anak-anak kusta jadi tema puisi atau tentang altar-altar [...]
Arsip untuk ‘1. Sastra’ Kategori
ada seorang yang diam menerima saja segala tiba mencatat mengingat apakah sedemikian mudah melupakan perih tertadah? di suatu masa, yang baik, yang tidak baik terbalas !! lunas !! tuntas !! dan seseorang, kembali diam menerima segala tiba Malang, Juni 2011
langit biru sepoi angin tajam matari sungsang lembut kabut runtuh aku tertelan gundah serapah source gambar : http://bit.ly/iE7qxk
kepadamu awan, tempat anak-anak memuja hujan, lalu berlarian riang di halaman kepada keriangan kala hujan, adakah alir yang menghanyutkan kesepian? bermuara di samudra maha dalam? Atau memang sepi tak pernah hanyut hanya serupa gigil kuyup jiwa-jiwa hitam yang semakin kuncup Ah, hujan.. Setidaknya anak-anak masih riang di halaman. Maret 2011
Sebegitu kuasa kah matahari hingga embun cepat pergi? atau Yang Biru harus kembali ke laut? menyepi tunggu mati. hingga dunia tenang-diam-saja. tidak ada apa-apa.. tidak ada apa-apa.. setidaknya, Nona. Adakah tempat untuk kita di dunia? Malang 2011.


