kurasakan genggam jemarimu rapuh
semacam biduk terambing badai dilautan
menunggu karam entah suatu kapan
ada yang datang saat hilang, satu kembali jika ada yang pergi
hidupmu, hidupku, adalah angin
suatu masa sepoi, suatu lalu lembut, lain masa tenang, kadang menampar, menerjang.
ratapan mana mampu mereduksi panas matahari?
di malam pekat-pun kurasa kau pernah berkeringat
lalu apa susahnya tertawa? -HAHAHAHAHAHA-
begitu saja.
bagian mana kau tak bisa?
atau kau mau terus tersimpuh nunggu angin?
melepas gerah-gerahmu. dan terbang entah kemana.
silahkan saja.
Malang: Desember 2010
07.40
30 hari Puisi – #17 Angin



HAHAHA nih aku ketawa *kabur
kalau begitu, aku yg menunggu angin saja
Kebanyakan ketawa, apalagi sendirian
nanti aku disangka gila
ayolah, tertawa saja.. hahahaha
anggap saja ini puisi untuk Nova dan kemarennya itu #uhuk
Anggap saja? *hening*
entah apa yang dibawa sepoi angin kali ini…